TanaToraja Trip


Sebenarnya perjalanan ini sudah  berberapa tahun yang lalu, tapi berhubung dapat tugas kampus menulis tentang kebudayaan akhirnya saya tuangkan diblog cupu saya ini, ha ha ha …..  (lanjut mas!) petualangan saya di mulai dari Bandara Soekarno Hatta, disana saya ketemu ama tukul arwana itu lho pembawa acara empat mata….. ho ho ho….  (wew, malah curhat! T_T…. ha ha ha …..). akhirnya saya pun bertolak dari jakarta menuju makasar. Sampai di Makasar langsung carter mobil kijang dengan plat kuning (taxi disono begitu semua…. Akakkaka…), selama perjalanan akan terlihat pemandangan yang maknyus so beautifull….Menjelang malam akhirnya sampai ditempat tujuan kira-kira 8jam lamanya dari Makasar (lupa desa apa namanya… ha ha ha ….), suasana desa begitu mencengangkan gelap gulita hanya remang – remang lampu dari rumah-rumah penduduk (tau sendiri rumah satu dengan rumah yang lain jaraknya bisa 400meteran…. T_T…), akhirnya saya pun tiba dirumah tempat saya melepas lelah(tidur ah…. ^^).

Ke’esokannya saya keluar rumah…. Wow!!!  takjup!!! ^^, pemandangan yang begitu indah gunung dengan batuan granitnya, langit biru, hutan yang hijau dan udara yang dingin..brrr…>.< (udah mas curhatnya ?,”ho ho ho… iya2… langsung aja”.) tujuan awal saya datang ke Tana Toraja sebenarnya untuk menghadiri pemakaman (Rambu Solo) salah satu keluarga. Dalam adat toraja, jenazah tidak langsung dikubur tapi diletakan dalam rumah adat (tongkonan) untuk beberapa waktu, biasa nya 10 tahunan sampai siap buat mengadakan upacara kematian. Pemakaman ini biasanya diperuntukan untuk bangsawan, dengan biaya yang cukup wah untuk acara kematian. Selama masa tunggu jenazah disiapkan dengan dibungkus dengan kain yang dihiasi dengan emas dan perak, disertakan barang-barang sebelum dia meninggal dengan tujuan bekal diakhirat. Orang toraja percaya bahwa kematian tidak datang tiba – tiba tapi merupakan proses menuju Puya (kehidupan setelah kematian), jadi jiwa yang mati tersebut masih berada disekitar sampai proses pemakaman selesai, setelah itu barulah memulai perjalannnya ke Puya tadi.

proses pembungkusan

Sedangkan ditempat lain dibangun sebuah situs seremonial (rante) yang akan digunakan untuk upacara, dibangun, bangunan sementara yang disebut lantang untuk tempat menginap keluarga – keluarga dari masing-masing daerah dan pengikut upacara(penduduk sekitar).

lantang

Upacara ini berlangsung 1 minggu lamanya, di ikuti dengan penyembelihan kerbau. Semakin banyak kerbau yang disembelih semakin menunjukan derajat tingkatan bangsawan, selain itu mereka juga percaya bahwa kerbau merupakan sarana transportasi menuju ke Puya semakin banyak kerbau semakin cepat sampai ke Puya. Oh iya, satu lagi hewan yang disembelih…. Yaitu BAB*…. Ha ha ha ….

Sebenarnya saya juga belum begitu mengerti susunan atau  tata cara pemakamannya.. ha ha ha ….  Pada saat upacara belangsung jenazah yang sudah terbungkus kain tersebut diangkat, kemudian digoyang- goyang khan diiringi semacam nyanyian yang jelas tidak saya mengerti… he he he …. Kemudian jenazah dibawa keluar sambil membentangkan kain merah yang maksud dah tujuannya saya juga tidak tahu, wkkwkww…

Kain merah

Setelah dibawah keluar dari tongkonan, jenazah ditaruh diusungan entah namanya apa … saya juga kurang tau… ha ha ha …..  setelah itu jenazah dibawa ke rante / situs tempat upacara berlangsung dengan cara digoyang – goyangkan disertai nyanyian. Diikuti dengan pertunjukan adat seperti Mapasilagan tedong(adu kerbau), tarian adat, dan acara potong hewan. Proses Rambu Solo ini memakan waktu 7 hari 7 malam, dimana pada malam terakhir jenazah dimasukan ke makam batu. hm… sebenarnya masih banyak petualangan yang ingin saya luberkan diblog katro ini…. tapi sayang billing udah abis… ha ha ha … maklum ngeblog gratisan di ariesre … T_T….

tunggu update kisah-kisah selanjutnya….. wkwkkwkw… thx buat bang ariesre yang ngasih internatan gratis…. :P…..

Gallery :